ARTIKEL PALING POPULER

Showing posts with label Psikologi dan Perkembangan. Show all posts
Showing posts with label Psikologi dan Perkembangan. Show all posts

02 September 2011

Susahnya Mengajar Anakku Menulis !! - Tips Mengajar Anak Pra Sekolah Menulis

Cukup banyak orang tua yang peduli dengan perkembangan dan pendidikan anaknya. Tak jarang mereka turut serta mendampingi anak-anak mereka dalam setiap aktivitias, termasuk belajar. Pada asarnya, orang tua ingin yang terbaik untuk pendidikan anak-anaknya, namun terkadang mereka juga kebingungan ketika membantu anak-anak mereka belajar.
Pembelajaran pertama yang mendasar, yaitu ketika orang tua mengajar anak menulis ketika anak berusia 3-5 tahun - karena masa-masa tersebut anak sudah mulai masuk usia pendidikan dini atau Taman Kanak-kanak. Tidak sedikit orang tua yang harus bergumul bahkan "mengomel" ketika mengajar anak mereka menulis. Terkadang si anak tidak mau karena merasa sulit, cara memegang pensil yang salah, atau bahkan mencoret-coret kertas. Hal-hal tersebut cukup membuat orang tua frustasi dan mengambil keputusan yang simpel dan praktis, yaitu mencari guru les privat.
Dari contoh-contoh di atas, maka perlu diketahui oleh orang tua bahwa mengajar anak menulis tidaklah sesulit dan "se-frustasi" yang mereka bayangkan, namun justru menyenangkan!!
Mari kita memahami perkembangan anak kita dalam belajar. Umumnya, anak usia 3 tahun mampu memegang pensil meskipun belum sempurna. Ia pun gemar mencoret-coret di selembar kertas layaknya sedang menulis, meniru perilaku menulis dari orang dewasa di sekitarnya. Seiring usia yang bertambah, kemampuan memegangnya pun akan lebih mantap, sehingga ia mampu melakukan aktivitas menulis atau menggambar lebih baik. Keinginan si anak untuk "menulis" atau sekedar menggoreskan pensil di selembar kertas adalah salah satu bagian perkembangan motorik halus anak usia 3-5 tahun.
Nah, sejauh mana perkembangan kemampuan menulis yang diharapkan telah dicapai pada usia prasekolah ini? Jadi, jangan membayangkan si anak langsung dapat menulis abjad!! Kemampuan "menulis" yang dimaksud pada tahapan usia ini adalah tahapan mampu memegang pensil dan meniru aneka bentuk. Agar si kecil mau belajar menulis, berikan stimulasi yang dilakukan dalam suasana bermain.
Menebalkan bentuk
Pilih materi yang merupakan kegemaran atau pusat minat anak. Misal, ia sangat menyukai binatang. Nah, mulailah dengan aneka gambar binatang. Berikan buku bergambar aneka binatang, kemudian berikan pensil dan minta ia menebalkan aneka gambar bentuk binatang itu. Biarkan ia melakukannya secara perlahan. Tak perlu dipaksa jika anak tidak mau melanjutkan. Sambil menunggu ia menyelesaikan gambarnya, ceritakan keistimewaan binatang tesebut, sehingga ada tambahan pengetahuan yang diperoleh oleh si anak.
Mengikuti garis putus-putus atau titik-titik
Setelah anak mampu menebalkan gambar aneka binatang tersebut, lanjutkan dengan "menggambar" binatang mengikuti garis putus-putus atau titik-titik.
Tingkatkan ketrampilan berikutnya, yaitu menirukan bentuk-bentuk seperti lingkaran, segitiga, segiempat, dan sebagainya. Awalnya orang tua dapat membimbing anak sambil memegangi tangan anak. Selanjutnya, rangsang anak untuk menirukan sendiri. Guna memperkaya wawasan, minta ia menggambar bentuk benda-benda yang ada di sekitarnya yang berupa lingkaran atau segi empat dan sebagainya. Contoh : wajah ibu, meja makan, jam dinding, dan lain-lain.
Di usia 4-5 tahun, anak dapat diminta menggambar sendiri aneka bentuk geometris. Bimbing tangannnya agar ia mau menggoreskan pensilnya dan selanjutnya beri kepercayaan pada anak untuk menggambar sendiri aneka bentuk geomatris tersebut.
Stimulasi lain yang dapat diberikan adalah menggunting dan membentuk lilin, bisa dilakukan sejak usia 3 tahun. Melalui dua permainan ini, saraf-saraf dan otot-otot pada pergelangan tangan dan jari-jari anak terlatih.
6 Hal Sebelum Menulis
Sebelum mengajari anak menulis, ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh orang tua, yaitu :
1. Kesiapan anak dalam memegang pensil atau alat tulis lainnya
Untuk mengembangkan kemampuang menulis, anak harus mampu memegang pensil dengan baik. Jari-jemari yang digunakan untuk memegang pensil harus tepat, sehingga ia dapat dengan nyaman menggoreskan alat tulisnya di kertas.
2. Biasakan anak bercakap-cakap dengan orang tua
Gunanya merangsang potensi panca indera anak, selain juga untuk menambah kosakata. Kemampuan berkomunikasi yang baik dapat menjadi bekal untuk melatih menulis, karena akan lebih meudah memberikan penjelasan pada anak tentang aneka bentuk yang akan ditiru atau digambar.
3. Pemahaman atau penguasan anak terhadap konsep bahasa atau simbol-simbol
Selanjutnya, untuk mengembangkan kemampuan menulis dalam arti yang sesungguhnya, hendaknya anak juga telah mengenal simbol-simbol bunyi dan menguasai konsep huruf. Maksudnya, anak mampu membedakan huruf a dan b. Kenalkan huruf kecil terlebih dahulu karena mudah dipahami dan akan lebih sering digunakan.
4. Dimulai dari pusat minat anak.
Mulailah dari sesuatu yang menarik perhatian anak dan sesuai dengan kebutuhan sehari-harinya, seperti namanya sendiri, makan, minum, pakaian dan lain-lain.
5. Belajar menulis dapat di mana saja dan kapan saja
Untuk belajar menulis tidak perlu diusahakan alat atau tempat khusus. Lakukan sambil bermain, misalnya dengan ranting pohon di tanah, di pantai dengan jari tangan, dan lain-lain. Pengenalan huruf dapat dimulai dengan benda yang ada di sekitar, termasuk anggota badan sendiri. Contoh : mulut yang seperti bentuk huruf O. Alangkah baiknya pula jika diberikan benda kongkritnya, seumpama huruf h dengan menunjuk hidung, huruf a dengan buah apel, dan seterusnya.
6. Jangan paksa!
Jika anak belum ingin menulis sebaiknya jangan dipaksa. Pemaksaan dapat menyebabkan anak trauma. Bisa-bisa selanjutnya malah malas menulis.
Boleh dikenalkan pada huruf
Untuk menumbuhkan minat anak dalam menulis, tidak ada salahnya jika orang tua kerap membacakan dan mengenalkan huruf-huruf. Contoh : tunjukkan gambar ikan dan di bawahnya ada huruf i dalam huruf kecil. Kenalkan pada anak bahwa itu adalah gambar ikan. Dengan kegiatan bermain ini, anak akan termotivasi untuk mencoba meniru atau menuliskan aneka bentuk huruf tersebut.
Intisari dikutip dari : Tabloid Nova. Jumat, 2 April 2010

The Executive Function Skills - An educational techniques for ADHD and ADD

Individual with ADHD and ADD often have difficulty with Executive Skills, also called Executive Functions. These are the skills that help us manage and direct our lives. They are analogous to the activities that an executive engages in to manage and direct a company or business.
Executive Skills allow us to plan and organize our behavior, make well-considered decisions, overrule immediate disires in favor of longer-term goals, take consious control of our emotions, and monitor our thoughts in order to work more efficiently and effectively.
There are a number of different theories and definitions of the skills that constitute executive functions. The following is a compilation that illustrates the full range of skills needed to effectively manage out lives.
Executive Functions
Planning and Prioritizing
The ability to create a plan to complete a task or to develop an approach to achieveing a goal. This skills includes making decisions about what to direct attention toward and ordering the steps needed to achieve the goal.
Time Management
The sense of that "time" is important concept, the ability to accurately estimate how much time a task will take, knowing how to apportion your time, and how to stay within time constraints to meet deadlines.
Organization
The ability to arrage ideas or objects according to a defined structure.
Working Memory
The ability to remember information while using the information to perform complex tasks.
Metacognition
The ability to take a top-down view of your problem solving approach and to self-monitor and evaluate performance.
Response Inhibition
The power to resist the urge to say or to do something; taking time to think before acting.
Self-regulation of Affect
The ability to deal with emotions so that they don't get in the way of completing tasks or achieving goals.
Task Initiation
The ability to start a task at the appropriate time without delay or procrastination.
Flexibility
The ability to adapt your responses, behaviors and plans when necessary in order to achieve toward your goals.
Goal-directed Persistence
The ability to follow through to complete task and achieve goals.
Sustained Attention
The capacity to pay attention to a task, particulary if the task is not interesting.
Disengaging Attention
The ability to stop directing your attention towards one thing and direct it towards something else.
Regulation of Processing Speed
The ability to make a conscious decision about how slowly or quickly to perform a task based upon its importance to you.

19 May 2011

Siklus Kehidupan Balita


Apakah siklus kehidupan itu? Siklus kehidupan mengetengahkan tahapan kehidupan yang akan dialami semua orang sejak lahir sampai mati. Tahapan ini melalui urutan tertentu dan tidak bisa dilompati, karena tahap yang sebelumnya merupakan fondasi bagi tahap berikutnya. Dan tiap tahap ini memiliki ciri dan target tertentu yang harus dicapai agar perkembangan kepribadian menjadi optimal. Disebut juga Prinsip Epigenetik.

Teori Erik Erikson berkata, setiap balita akan mengikuti Teori Perkembangan Psikososial.
  1. Usia 0 - 18 Bulan (Trust vs Mistrust)
  2. Usia 18 bulan - 3 tahun (Autonomy vs Shame and Doubt)
  3. Usia 3 - 5 tahun (Initiative vs Guilt)

Usia 0 - 18 bulan
  • Bayi hidup dan mencintai melalui "mulut".
  • Bayi mengamati dan memberi signal, sehingga kepekaan orang tua untuk merespon terhadap signal dari bayi sangat penting.
  • Dalam memenuhi kebutuhannya, bayi sangat tergantung pada lingkungan (pengasuh, tentunya pengasuh yang diharapkan adalah orang tua dan bukan yang lain). Oleh karena itu orang tua diharapkan sangat peka dengan kebutuhan bayi.
  • Dalam tahap ini sebaiknya setiap kebutuhan bayi segera dipenuhi.
Jika kita BERHASIL dalam tahapan ini, maka anak akan merasakan lingkungan (orang tua) sebagai pemberi rasa aman dan nyaman yang dapat dipercaya.
Sebaliknay jika kita GAGAL, maka anak akan didominasi oleh rasa tidak percaya kepada lingkungan dan bayi akan banyak diliputi rasa takut atau cemas yang mendasar. Dan bayi akan sulit mengembangkan time perspective yang optimal dalam kehidupannya kelak.


Usia 18 bulan - 3 tahun
  • Anak mulai bisa bicara dan jalan.
  • Anak mulai ada rasa percaya terhadap lingkungan.
  • Beri kesempatan anak mengembangkan kemampuan kontrolnya.
  • Sikap lingkungan sebaiknya tegas tapi menentramkan, bukan galak dan selalu melarang.
  • Anak akan berusaha mencapai rasa otonomi.
  • Sikap lingkungan seharusnya: supportive, reassuring, assertive.
Jika kita BERHASIL dalam tahapan ini, anak akan dapat mengembangkan rasa percaya diri secara wajar, mempunyai rasa pengarahan diri sendiri dan mempunyai kemantapan langkah.
Jika kita GAGAL, maka anak akan didominasi oleh rasa ragu-ragu dan malu serta kurang mampu mengarahkan diri sendiri.


Usia 3 - 5 tahun
  • Anak secara aktif memasuki dunia dengan suaranya, geraknya dan rasa ingin tahunya.
  • Beri kesempatan untuk ber-inisiatif, walalupun belum menghasilkan suatu karya yang berarti. Beri support dan hindari selalu melarang dan memarahi bahkan menghukum.
  • Muncul daya kreativitas.
  • Selalu ingin ber-eksperimen.
  • Lingkungan harus memberi dukungan dan memenuhi rasa ingin tahu anak dengan menjawab setiap pertanyaan dengan baik.
Jika BERHASIL, maka anak akan mengembangkan daya inisiatif dan daya kreativitasnya.
Jika GAGAL, maka anak akan diliputi rasa bersalah karena lingkungan over kritik, melecehkan dan tidak menghargai usaha-usaha anak.

Usia 0-5 tahun ini disebut juga GOLDEN PERIOD dimana kita masih bisa menanamkan nilai-nilai budi luhur yang benar yang akan membentuk anak kita di kemudian hari kelak.

dr. Agung Budi Setyawan Sp.Kj.

11 November 2010

Dampak TV & Perilaku Seksual Pada Anak

Televisi, bagi sebagian orang adalah teman paling setia untuk melewati hari-hari yang membosankan, sekaligus penghibur paling loyal yang bisa menghibur kita setiap saat denga jenis hiburan apapun yang kita mau.

Semuanya bisa kita kontrol hanya dengan tekanan jari kita.
Televisi, juga "penjaga anak" yang paling efektif dan efesien. Suatu kali kita beli, dia bisa "memaku" anak-anak kita di tempat duduknya berjam-jam.Situasi inilah yang dialami oleh keluarga kebanyakan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan AGBNielsen Media Research di sepuluh kota besar : Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makasar, Jogjakarta, Palembang, Denpasar, Banjarmasin, yang dilaporkan dalam newsletter mereka edisi 3, Maret 2010, dikatakan bahwa remaja Indonesia berusia 15 - 19 tahun setiap hari menghabiskan waktu untuk nonton TV selama 2 jam 70 menit.

Sementara itu 72 % dari kelompok usia ini menghabiskan waktunya lebih dari satu jam setiap hari untuk berselancar di dunia maya. Meskipun terjadi pergeseran pola penggunaan waktu oleh remaja dari TV ke internet tetapi sampai saat ini TV masih memiliki pengaruh yang dominan.

Yang harus kita sadari televisi bukan sekedar media hiburan. Televisi secara umum adalah suatu industri yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan materi. Meskipun penontonnya tidak membayar secara langsung, ini tetap bukan tontonan gratis. Ada sponsor yang memasang iklan untuk setiap tayangan.

Dan setiap sponsor ini menuntut imbalan yang cepat, maka tidak heran jika penonton TV akan digiring menjadi orang-orang yang konsumtif. Iklan semacam ini juga memenuhi tayangan-tayangan untuk anak-anak. Paling banyak untuk tayangan anak-anak adalah iklan jajanan yang tidak sehat, mengandung kalori, garam, penyedap rasa, bahkan pengawet yang tinggi.

Televisi, juga bukan sekedar memberi hiburan tetapi menyebarkan nilai-nilai. Lihat saja, banyak cerita sinetron yang menayangkan kehidupan pelajar-pelajar SMP yang berpacaran, bahkan ada pula yang mengggambarkan siswa SD sudah berpacaran.

Ketika hal-hal semacam itu ditonton oleh anak-anak tersebut, maka nilai-nilai atau gaya hidup yang semacam ini akan segera diserap oleh mereka.

Tahukah Anda, remaja yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah, 90 % melakukan dengan pacarnya. Artinya, kalau remaja Anda yang masih duduk di bangku SMP apalagi SD sudah berpacaran, remaja Anda sedang berada pada area yang amat berbahaya.

Televisi di Indonesia sangat sulit dikontrol, tetapi orang tua di Indonesia bisa memilih untuk tidak menonton TV.

Saya dan seluruh keluarga mengambil ketetapan untuk tidak menonton TV, sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu. Keputusan yang saya bersama istri, pada akhirnya meringankan tugas parenting kami. Sebab nilai-nilai maupun gaya hidup yang kami bangun di keluarga kami tidak disabotase oleh nilai-nilai atau gaya hidup yang terus-menerus disebarkan oleh TV.

Tanpa TV, kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, membangun kebersamaan, serta mengembangkan kebiasaan baik membaca sebagai media hiburan yang mendidik.

Sumber: DR. Andik Wijaya, M.RepMed - Tabloid Keluarga

Orang Tua OTORITER?

Salah satu kriteria orang tua OTORITER adalah seberapa banyak kita mengekang anak dan tidak membiarkan mereka memiliki ruang geraknya sendiri. Orang tua yang otoriter tidak mengijinkan anak mempunyai pendapat sendiri, memiliki minat yang berbeda, atau melakukan sesuatu yang berbeda.
Saya setuju dengan pendapat bahwa orang tua harus menjadi pemimpin bagi anak-anaknya. Namun itu tidak berarti orang tua dapat memaksakan seluruh kehendaknya. Anak memerlukan ruang untuk bergerak, agar ia terlatih untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.

Masalahnya sekarang, kapankah kita tahu bahwa kita telah memaksakan seluruh kehendak kita, padahal yang kita maksud adalah mendidik anak agar mereka mempunyai hidup yang baik kelak?

Untuk membedakan mana yang otoriter dan mana yang tidak memang dibutuhkan kepekaan ekstra dari orang tua atas dirinya sendiri. Kalau kita dapat memikirkan apa yang dipikirkan anak dan merasakan apa yang mereka rasakan setiap kali kita berkomunikasi dengan mereka, kita akan memiliki kepekaan itu.

Jadi, kalau misalnya anak selalu salah, apapun yang mereka lakukan, dan hal ini membuat mereka apatis, atau sebaliknya memberontak habis-habisan, ada kemungkinan kita telah bertindak otoriter.
APA AKIBATNYA BAGI ANAK BILA KITA BERSIKAP OTORITER?
Dalam keadaan ini, anak akan bertumbuh menjadi orang yang bergantung pada orang lain. Bahkan, anak menjadi keras kepala dan sulit diatur. Ini akan terjadi pada anak yang lebih berani.

Dalam keadaan tertentu, kita memang tidak akan sempat lagi berdebat dengan anak kita karena mendesaknya waktu. Dalam keadaan demikian, kita perlu mengambil tindakan yang bersifat otoriter.
Saya kira pemimpin manapun tentunya pernah melakukan tindakan dan keputusan sepihak tanpa persetujuan bawahannya, yaitu terutama dalam situasi darurat. Tetapi sedapat mungkin dalam kebanyakan keadaan, berikan pilihan-pilihan kepada mereka, sehingga anak relatif mempunyai kesempatak untuk mengambil keputusan sendiri bersama dengan konsekuensinya.

Dapat dikatakan bahwa gaya mendidik yang otoriter kita perlukan lebih banyak pada usia-usia dini anak, dan hendaknya semakin demokratis ketika anak semakin dewasa.

Seharusnya pada saat remaja, anak semakin memperoleh kebebasannya. Untuk itu, kita perlu menyelesaikan penanaman dasar moral dan kebiasaan ayng baik sesaat sebelum anak memasuki usia remaja. Sehingga ketika anak remaja diberi kebebasan menentukan dirinya lebih banyak, mereka tidak mengambil tindakan yang kurang bertanggung jawab.

Otoriter itu didominasi oleh pemaksaan-pemaksaan orang tua kepada anak, jadi lebih banya bertujuan memuaskan keinginan, target, ambisi, bahkan hawa nafsu orang tua sendiri.

Sebaiknya orang tua dalam melakukan tindakan mendisiplin ataupun berelasi dengan anak dilandaskan kasih sayang, jadi lebih banyak memikirkan kebutuhan dan kemampuan anak.

Dalam hal ini orang tua lebih baik bersikap demokratis dan memberi ruang kepada perbedaan anak dengan orang tua, dan memberi ruang juga bagi anak untuk bertanya dan mencari alasan mengapa suatu hal diijinkan dan hal lain tidak diijinkan.

Dan sekarang sedikit nasihat kepada orang tua. Jangan terus-menerus menggusari atau mencari-cari kesalahan anak-anak Anda, sehingga membuat mereka marah dan jengkel. Tetapi didiklah mereka dengan tata tertib yang penuh kasih dan benar.
Sumber: Andy Yuwono - Tabloid Keluarga

01 November 2010

Cerita Anak

Manfaat Cerita Anak
 
Padahal, tontonan yang disajikan televisi, yang tersaji mulai dari anak bangun tidur hingga Saat ini, cerita anak bukan lagi hal populer. Budaya mendongeng atau bercerita kepada anak-anak sepertinya sudah mulai mengendur, tergantikan budaya menonton Televisi, Play Station, Videogame dan teknologi canggih lainnya, belum tidur tentu sesuai untuk usia anak.

01 October 2010

Lagu Anak

Mengkritisi Lagu Anak Indonesia
 
Sukakah Anda mendengarkan lagu untuk Anda? Tidak jarang ibu-ibu saat ini yang memilih produk lagu anak zaman dulu yang masih banyak dihafal lagu-lagunyam seperti yang diciptakan oleh Bu Kasur dan Pak AT Mahmud yang sangat mendidik, santun dan tak lekang oleh waktu. Kemudian, jika Anda mengamati, lagu anak di era 80an masih merupakan warisan dari zaman sebelumnya. Biasanya ditandai dengan durasinya yang pendek dan kalimat yang mendidik, serta mudah dipahami.

01 June 2010

Mengenali Permainan Anak

"Permainan anak tidak terlepas dengan masa kanak-kanak yang indah dan menggembirakan."
--Filosof Anak--

Apabila kita ditanya tentang masa kanak-kanak, tentu kita akan dengan suka cita menceritakan berbagai pengalaman menyenangkan yang pernah dialami. Semuanya begitu indah dan menggembirakan. Mengapa demikian? Karena masa kanak-kanak adalah masa bermain. Hampir atau bahkan semua aktivitas anak-anak adalah bermain!

26 May 2010

TK Sangat Penting Buat Buah Hati Anda

Prinsip belajar di TK adalah bermain. Meski hanya bermain, tetapi banyak manfaatnya. “Anak bisa mengembangkan seluruh potensinya lewat bermain sehingga saat terjun ke sekolah formal sesungguhnya, dia bisa memahami keberadaan di lingkungannya bahwa ia punya tanggung jawab, bisa mengikuti peraturan, tata tertib, dan disiplin-disiplin yang diberikan,” papar Drs. Bambang Sujiono, M.Pd.

Di TK, anak jakan mendapatkan pelajaran-pelajaran baru semisal mengenal warna, bentuk, irama, dan lainnya lewat bermain. Lewat bermain pula, anak bukan hanya bisa mengembangkan otot-ototnya, baik otot besar maupun otot halus seperti perkembangan motorik kasar dan halus, tapi juga bisa berfantasi dan mengekspresikan diri.

Anak juga belajar bersosialisasi, berbicara satu dengan lainnya lewat bermain.

Itulah sebabnya, jenjang TK tak bakal menjadi prasyarat masuk SD, tapi Bambang berpendapat, TK lebih bermanfaat. “Karena anak akan mengenal nuansa yang bakal ditemuinya di SD, seperti bahwa sekolah itu belajar aturan. Nah, di rumah, kan, tidak ada aturan seperti dalam belajar kelompok, bermain bersama, patuh pada guru dan disiplin kelas,” ujar pendidik yang bersama istrinya menulis buku Seri Mengembangkan Potensi Bawaan Anak.

Anak yang sudah bersekolah di kelompok bermain umumnya akan lebih mudah menyesuaikan diri saat masuk TK. Minimal, anak tak “kaget” saat menemui lingkungan baru. Ia sudah bisa bermain dan mampu bersosialisasi dan terbiasa menerima instruksi dari orang lain selain orang tuanya.

Tak lupa ia berpesan agar orang tua melakukan survei ke sekolah yang dituju. Dengan mengetahui apa yang diprogramkan oleh sekolah dan apa yang kita siapkan, maka kita akan tahu mana sekolah yang cocok untuk anak kita.

Sumber : keluargasehat.wordpress.com

11 May 2010

Kesiapan Buah Hati Masuk TK

Modalnya bukan cuma mandiri dan siap ditinggal di kelas. Kenali kesiapannya dengan melihat berbagai aspek perkembangan di bawah ini.

Masuk TK berarti anak masuk ke lingkungan baru. Ia harus bisa berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenalnya, menyesuaikan diri dengan suasana serta ruangan dan alam yang sangat berbeda dari apa yang ia ketahui sebelumnya. Tentunya si kecil tak bisa dilepas begitu saja memasuki dunia barunya tersebut, ia harus disiapkan lebih dulu. Kita sendiri yang sudah dewasa, pun, bila masuk lingkungan baru tanpa persiapan tentu akan canggung, kan?

Nah, berikut ini 4 faktor yang harus diperhatikan orang tua seperti dipaparkan Drs. Bambang Sujiono, M.Pd, kandidat Doktor Pendidikan Usia Dini (PUD) di Universitas Negeri Jakarta.

1. Kesiapan Fisik

Aspek fisik meliputi motorik kasar dan halus. Pada motorik kasar, misal, anak sudah mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan-gerakan seperti berlari, memanjat, naik-turun tangga, melempar bola, bahkan melakukan dua gerakan sekaligus semisal melompat sambil melempar bola.

Aktivitas belajar di TK memang banyak mengandalkan motorik kasar. Karenanya, bila anak aktif bergerak, justru itu yang diharapkan. Nanti di TK dikembangkan aspek fisik yang lain seperti keseimbangan, kelenturan, daya tahan dan lainnya. Jadi jangan sampai anak itu, misal, kekuatan kakinya bagus tetapi keseimbangannya kurang sehingga gampang jatuh. Atau, baru main sebentar langsung capek. Semua aspek fisik yang menjadi bagian motorik anak, selanjutnya harus dikembangkan di TK.

Sedangkan motorik halus akan sejalan dengan pembelajaran yang diberikan di TK. Anak akan belajar menggunting, melipat, memasukkan bola-bola, memilih biji-bijian. Nah, itu semua pasti akan jalan bila ditunjang oleh fisik yang bagus.

2. Kesiapan Emosional

Kesiapan emosional yang paling penting menyangkut kemandirian. Paling tidak, ketika si anak berada di kelas, dia sudah duduk sendiri, tidak tergantung pada siapa-siapa, dan mau mengikuti perintah.

Kesiapan emosional lainnya ditunjukkan dengan kesiapan anak menerima situasi yang baru. Tentu wajar saja bila pada hari-hari pertama, anak menangis menghadapi situasi yang berbeda dari rumah. Akan tetapi, anak yang lebih siap, beberapa hari kemudian sudah mampu berbaur dengan teman-temannya dan siap menerima bimbingan serta pembelajaran. Dia sudah tidak lari-lari lagi di kelas ketika diminta duduk oleh gurunya.

Hanya mempersiapkan anak pada kesiapan sosialisasi saja. Artinya, kalau si anak sudah tak takut bertemu orang, menunjukkan minat untuk berkawan, berarti dia sudah siap. Ini memang harus disiapkan. Tetapi sebenarnya tak cuma ini. Anak bukan hanya tidak takut berhadapan dengan orang lain, tapi juga mau mendengarkan orang lain. Kemampuan ini penting dalam bersosialisasi dan kalau guru bicara tetapi si anak lari ke sana-ke mari, maka rangsangan emosional yang diterimanya kurang lengkap. Jadi, anak juga harus diajarkan, bagaimana menjadi pendengar sebelum masuk TK.

3. Kesiapan Kognitif

Salah satunya adalah kemampuan bahasa karena di TK anak diharapkan mampu memahami intruksi yang diberikan oleh guru. Ia pun diharapkan mampu menyampaikan pendapat, perasaan, dan isi pikirannya meski belum runtut. Dengan demikian, anak juga harus memunyai perbendaharaan kosakata yang cukup untuk seusianya.

Bagaimana dengan baca-tulis? Kemampuan ini bukan menjadi syarat masuk TK. Namun, bila anak sudah mampu melakukannya, disarankan agar orang tua mencarikan sekolah yang cocok untuknya. Bila anak sudah punya kemampuan menghitung, misal, dan dia dimasukkan ke TK dimana anak-anaknya bahkan belum bisa menghitung 1 sampai 10, maka bisa-bisa potensinya malah hilang.

Untuk anak-anak seperti ini tentunya perlu penanganan khusus. Maksudnya, kita tak boleh menyamaratakan dengan teman-temannya yang lain karena potensinya berbeda. Jadi, kita harus betul-betul melihat keunikan
masing-masing anak dan itu harus dijalankan secara individual.

Orang tua juga jangan berharap bahwa di TK itu anaknya nanti diajarkan baca-tulis dan matematika seperti di SD. Yang dilakukan di TK adalah mengajari anak mengenal dasar-dasarnya dan itu pun dilakukan lewat bermain. Contoh, mengenali bentuk huruf, warna dan bentuk angka.

4. Kesiapan Sosial

Di TK, anak berkumpul bersama teman-teman yang baru saja dikenalnya. Dia akan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru. Ia pun akan mengenal aturan-aturan baru hidup bersama dan menyimak “pelajaran” dari guru-guru sambil belajar bersama teman-temannya.

Nah, kesiapan sosial dilihat dari kemampuan anak untuk tidak takut menghadapi orang asing, berani memasuki lingkungan baru dan tak ragu diajak berkomunikasi. Contoh, ada anak yang sudah berminggu-minggu sekolah masih menangis jika ditinggal oleh ibunya. Ini berarti si anak masih takut berada di lingkungan baru. Beda dengan yang siap, biasanya mereka malah enjoy bila bertemu teman-teman baru.

Sumber : keluargasehat.wordpress.com

09 May 2010

Stimulasi Dini Mengembangkan Kreativitas Anak

Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan balita. 

Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan multipel) yaitu kecerdasan : logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa (lingusitik), kecerdasan musikal, gerak (kinestetik), visuo-spasial, senirupa dll.

Cara melakukan stimulasi dini

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita. misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur.

Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih), benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang, dirangsang untuk meraih dan memegang mainan

Umur 3 – 6 bulan ditambah dengan bermain ‘cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Umur 6 – 9 bulan ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.

Umur 9 – 12 bulan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan.

Umur 12 – 18 bulan ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna, menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu), menyebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18 – 24 bulan ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan bagian-bagian tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan gambar atau menyebutkan nama binatang & benda-benda di sekitar rumah, mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main, minta dll), latihan menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana – baju, bermain melempar bola, melompat.

Umur 2 – 3 tahun ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll), menyebutkan nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil / besar di toilet.

Setelah umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman dll. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga) namun dapat pula di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak atau sejenisnya.

Pentingnya suasana ketika stimulasi

Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi-balita, setiap hari, terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya, dilakukan oleh keluarga (terutama ibu atau pengganti ibu).

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh dan bayi/balitanya. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu, memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita, atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bayi-balita.

Pentingnya pola pengasuhan yang demokratik (otoritatif)

Oleh karena itu interaksi antara pengasuh dan bayi atau balita harus dilakukan dalam suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif). Yaitu pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi, artinya memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.

Sumber : keluargasehat.wordpress.com

08 May 2010

Mengenal ADHD Dan Cara Mendidiknya

Apa sebenarnya yang disebut hiperaktif itu ? Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak sekitar tahun 1900 di tengah dunia medis. Apa sih ADHD itu? Pada perkembangan selanjutnya mulai muncul istilah ADHD (Attention Deficit / Hyperactivity Disorder). Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.

Inatensi

Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.

Hiperaktif

Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.

Impulsif

Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Selain ketiga gejala di atas, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah. 

Problem-problem yang biasa dialami oleh anak hiperaktif

Problem di sekolah

Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran. Banyak dijumpai bahwa anak hiperaktif banyak mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa, dan matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki ketrampilan motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa.

Problem di rumah

Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Selain itu, ia mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia gampang emosional. Selain itu anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi. 

Hambatan-hambatan tersbut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang mengalami penolakan baik dari keluarga maupun teman-temannya. Karena sering dibuat jengkel, orang tua sering memperlakukan anak secara kurang hangat. Orang tua kemudian banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman. 

Reaksi anakpun menolak dan berontak. Akibatnya terjadi ketegangan antara orang tua dengan anak. Baik anak maupun orang tua menjadi stress, dan situasi rumahpun menjadi kurang nyaman. Akibatnya anak menjadi lebih mudah frustrasi. Kegagalan bersosialisasi di mana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak akan merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu, dan ditolak.

Problem berbicara

Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi yang timbal balik. Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespon lawan bicara secara tepat.

Problem fisik

Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak–anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktivitas fisik anak juga beresiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh, terkilir, dan sebagainya.

Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak :

Faktor neurologik

Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif

Terjadinya perkembangan otak yang lambat.

Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan

Faktor Toksik

Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memilikipotensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.

Faktor Genetik

Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.

Faktor psikososial dan lingkungan

Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orang tua dengan anaknya.


Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :

  • Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas Kenali kelebihan dan bakat anak
  • Membantu anak dalam bersosialisasi Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya.
  • Menerima keterbatasan anak
  • Membangkitkan rasa percaya diri anak dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya
  • Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.
Sumber : keluargasehat.wordpress.com

06 May 2010

50% Kemampuan Belajar Anak Pada Usia 4 Tahun

Seperti kita ketahui, perkembangan anak dari semenjak didalam kandungan hingga mulai masuk sekolah, teramat penting. Selain untuk memupuk kemampuan dia ketika menginjak dewasa nantinya juga mempengaruhi perkembangan dirinya juga. Seperti melatih kemandirian dan keberanian dia, mengenal identitas diri, dan sebagainya.

Psikologi dan perkembangan anak dari sejak kelahiran hingga usia sepuluh tahun begitu penting, berikut ini beberapa point penting yang perlu kita ketahui mengenai tahun-tahun penting belajar bagi anak :
  • 50% (Lima puluh persen) kemampuan belajar seseorang dikembangkan pada masa empat tahun pertamanya.
  • 30% (Tiga puluh persen) yang lainya dikembangkan menjelang ulang tahun kedelapan
  • 20% (Dua puluh persen) lainnya setelah ulang tahun kedelapan
Tahun-tahun tersebut sangat penting bagi dia untuk landasan dia belajar di masa depan, dan setelah itu beberapa point yang perlu diingat adalah :
  • Selepas umur sepuluh tahun, cabang-cabang yang tidak berhubungan akan mati.
  • Diri sendiri (anak-anak) merupakan guru terbaik bagi diri mereka sendiri dan orang tua merupakan guru pertama terbaik bagi mereka.
  • Anak akan lebih mudah dan cepat belajar dan lebih kreatif dari pengalaman indrawi mereka, jadi rangsanglah indra mereka. 
"Menurut Glenn Doman (didalam Gordon Dryden dan Jeaanette Vos, 1999) stimulus warna yang diberikan untuk melatih indera penglihatan bayi sebaiknya warna kontras hitam-putih dan bukan warna pastel. Bahkan menurut Ronald Kotulak (didalam Inside The Brain, 1996) jika si anak tidak memproses pengalaman visualnya pada umur dua tahun meskipun otaknya sudah sempurna, dia takkan dapat melihat."
  • Pantai, rumah, hutan, kebun binatang, tempat bermain, museum, dan tempat berpetualangan; merupakan sekolah-sekolah terbaik di dunia.
  • Dengan olah raga yang sederhana bisa menumbuhkan semangat belajar pada bayi.
  • Bayi tumbuh dengan pola-pola tertentu, sehingga kita kembangkan berdasarkan pola-pola pertumbuhan tersebut.
  • Pendidikan dan belajar merupakan hal yang mengasyikkan termasuk membaca, menulis, dan matematika. Hal itu yang perlu ditanamkan dibenak anak.
Sumber : f-buzz.com

01 May 2010

Psikologi Anak

Memahami Psikologi Anak...

Berbicara masalah psikologi anak, Pakar Psikologi Perkembangan Erikson memfokuskan pada perkembangan psikososial sejak kecil hingga dewasa dalam delapan tahap.

Perlu diketahui, setiap orang akan melewati tahapan dan setiap tahapan akan mendapatkan pengalaman positif dan negatif. Kepribadian yang sehat akan diperoleh apabila seseorang dapat melewati krisis dalam tugas perkembangan dengan baik.

26 April 2010

Ketawa Sangat Penting Buat Bayi

Kegiatan bersama yang penuh tawa dan canda ini juga mampu mendekatkan hubungan antara bayi dengan sosok yang sering mengajaknya bercanda. Kehangatan juga terbentuk sehingga menciptakan rasa nyaman dan aman bagi bayi. Ini sangat bermanfaat untuk perkembangan emosinya kelak. Bayi yang memiliki perkembangan emosi yang baik, umumnya akan tumbuh menjadi anak yang kreatif

Usia 0– 6 bulan

Bayi mulai senyum sosial pada usia 6 minggu. Mulai mengenali orang-orang yang sering berada di dekatnya, seperti ayah, ibu dan pengasuhnya. Ia pun mulai melemparkan senyum kepada orang yang sering dilihatnya tersebut. Reaksi gembira yang diikuti dengan tertawa keras mulai mampu dilakukan pada usia 3–4 bulan. Ini berkaitan dengan pita suaranya yang semakin kuat. Di rentang usia ini, bayi juga mulai mengekspresikan rasa gembiranya dengan teriakan seperti ”aaaaa” dan gerakan tubuh. Contoh, dengan menggerak-gerakkan tangan, menggoyang-goyangkan kepala dan tubuhnya ketika sedang duduk. Selera humor bayi 0-6 bulan masih terbatas pada suara-suara yang aneh atau gerakan yang dilakukan dengan berulang-ulang.

Stimulasi
  • Lakukan permainan petak umpet, caranya cukup sederhana, misalnya dengan bersembunyi di balik boks, sambil mengucapkan, ”Ayo cari papa, Sayang…” Diamlah sesaat di tempat itu, baru kemudian munculkan wajah dengan mimik gembira sambil berteriak, “Hai, aku di sini!” Teriakannya jangan terlalu keras ya karena justru dapat membuat bayi kaget dan menangis.
  • Permainan tangkap sembunyi. Ibu/bapak menyembunyikan boneka, Teddy Bear, misalnya, di bawah selimut. Lantas tarik boneka tersebut dan angkat tinggi-tinggi. Jangan lupa tampilkan ekspresi gembira dengan tersenyum lebar. “Ooh…si Teddy Bear sudah kembali. Mau main sama Adek.”
  • Gerakan memukul guling atau bantal sambil diiringi suara lucu. Umpama, mengajak bayi memukul “drum” batal/guling sambil menirukan suara drum, “Dum-dum…”
  • Ciptakan permainan yang lucu dengan boneka tangan. Contoh, “Mbeeek…..kambing mau mencari rumput dulu. Ah, lapar nih…Nyam, nyam…” Lakukan dengan menggunakan suara aneh dan lucu.

Usia 6–12 bulan

Bayi mulai melakukan kontak emosi dengan orang di sekitarnya. Bila ada yang mengajaknya bicara dan mengelitik tubuhnya, ia akan tertawa. Memasuki usia 8–9 bulan –saat kemampuan motoriknya semakin baik— reaksi gembiranya akan kerap diiringi dengan gerakan tubuh. Umpama, menggoyangkan kepala dan badannya sambil diiringi babbling (pengulangan), misalnya “wa…wa”. Pada rentang ini, bayi cenderung menyukai humor yang slapstick. Contoh, gerakan kita yang pura-pura terpeleset atau seolah-olah ingin menangkapnya.


Stimulasi
  • Gelitiklah telapak tangan atau kakinya dengan ujung jari tangan kita. Pasti itu akan mengundang tawa riangnya.
  • Lakukan permainan interaktif, seperti cilukba, dengan ekpresi yang riang gembira.
  • Tariklah bibir kita lalu cobalah bersuara maka akan terdengar suara yang aneh yang akan mengundang tawa bayi.
  • Melakukan gerakan meniru. Contoh, gerakan kakek yang sedang berjalan dengan posisi bungkuk sambil menggunakan tongkat.
  • Melakukan gerakan tiba-tiba seperti mau menangkap si bayi. Umumnya si kecil akan geli melihat kita melakukan itu.
  • Buatlah boneka yang sedemikian rupa dapat menjulurkan lidahnya. Biarkan bayi menggerakkan tangannya untuk menarik lidah boneka tersebut. Lihatlah ekspresinya yang terkekeh-kekeh saat melihat lidah yang tiba-tiba menjulur keluar itu.
  • Menirukan berbagai gerakan binatang yang lucu sambil melakukan atraksi konyol. Umpama. kuda yang sedang berjalan lalu tiba-tiba meloncat-loncat dengan mengangkat kaki diiringi suara ringkikan yang keras.

YANG HARUS DIPERHATIKAN

Jangan sampai bayi tertawa berlebihan. Contoh, sampai teriak keras-keras atau guling-gulingan yang buntutnya malah membuatnya marah atau menangis. Bila sudah mencapai tahap itu, segera hentikan guyonan dan tenangkan bayi. Terlalu banyak tertawa juga dikhawatirkan malah bisa mengundang muntah, atau malah terbawa hingga tidur dan membuat tidurnya tidak tenang.

Untuk waktu sebenarnya bebas. Namun sebaiknya, pilih waktu ketika anak sedang tenang dan kenyang atau siaga menerima rangsangan, alias sedang tidak mengantuk. Bila belum makan berikan makan terlebih dahulu. Kira-kira 15 menit kemudian, baru diberikan stimulasi. Pilihlah waktu di luar jam tidur si bayi.

Hal lain yang patut diperhatikan pula adalah temperamen bayi. Untuk bayi yang tergolong memiliki temperamen mudah, biasanya tidak sulit untuk memberinya stimulasi. Kalau hari ini berhasil, dijamin besok juga akan berhasil. Tapi, bayi sulit (difficult baby) dan “lama panas” (slow to warm up) sulit diprediksi. Bisa hari ini berhasil, besok gagal. Untuk itu orangtua harus sabar dan sedikit menurunkan intensitasnya bila dirasa gagal.

Sumber: keluargasehat.wordpress.com

16 April 2010

Perkembangan Anak

Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika perkembangan anak luput dari perhatian orang tua (tanpa arahan dan pendampingan orangtua), maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka. Kelak, orang tua akan mengalami penyesalan yang mendalam.

11 April 2010

Pengaruh Permainan Pada Perkembangan Anak

Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak

1. Kesehatan

Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

2. Intelegensi

Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.

3. Jenis kelamin

Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.

4. Lingkungan

Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

5. Status sosial ekonomi

Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak

* Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak
* Bermain dapat digunakan sebagai terapi
* Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak
* Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
* Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
* Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak :

A. Permainan Aktif

1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi

Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.

2. Drama

Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik

Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu

Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga

Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif

1. Membaca

Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio

Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi

Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.

Sumber: keluargasehat.wordpress.com

10 April 2010

Mengembangkan Kecerdasan Jamak Dengan Stimulasi Dini

Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3 – 4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah lahir sampai umur 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai milyaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antar sel, sehingga membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada bayi-balita tersebut.

Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita maka semakin kompleks hubungan antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka semakin kuat maka hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari, bila dikembangkan terus menerus, sehingga anak akan mempunyai banyak variasi kecerdasan (multiple inteligensia).

Bagaimana cara merangsang kecerdasan multipel ?

Untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll.

Latih kecerdasan logika-matematik dengan mengelompokkan, menyusun, merangkai, menghitung mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki, puzzle, monopoli, permainan komputer dll.

Kembangkan kecerdasan visual-spatial dengan mengamati gambar, foto, merangkai dan membongkar lego, menggunting, melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan, permainan komputer dll.

Melatih kecerdasan gerak tubuh dengan berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk, berjalan di atas satu garis, berlari, melompat, melempar, menangkap, latihan senam, menari, olahraga permainan dll.

Merangsang kecerdasan musikal dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan alat musik, mengikuti irama dan nada.

Melatih kecerdasan emosi inter-personal dengan bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan, bekerjasama membuat sesuatu, permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku, bangsa, budaya, agama melalui buku, TV dll.

Melatih kecerdasan emosi intra-personal dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.

Merangsang kecerdasan naturalis dengan menanam biji hingga tumbuh, memelihara tanaman dalam pot, memelihara binatang, berkebun, wisata di hutan, gunung, sungai, pantai, mengamati langit, awan, bulan, bintang dll.

Bila anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan dirangsang terus menerus sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan jenis yang bervariasi maka anak kita akan mempunyai kecerdasan yang multipel.
Bagaimana cara mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Banyak keluarga yang tidak menyadari bahwa sikap orangtua yang otoriter (diktator) terhadap anak akan mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya mempunyai kreativitas yang sangat terbatas.

Sumber : keluargasehat.wordpress.com

07 April 2010

Perkembangan Otak Bayi

Otak adalah Processor dari tubuh kita. Dia yang mengontrol semua pergerakan otot, kemampuan menyelesaikan soal matematika, bermain dan lain-lain. Otak sebagai salah satu organ vital mempunyai peranan yang tinggi didalam proses perkembangan pertumbuhan bayi, apa saja sich perkembangan otak di awal-awal tahun, ketika bayi berumur 6 bulan, 8 bulan, atau hingga puluhan tahun?

Ketika menjelang kelahiran

Kebanyakan anak sudah memiliki 100 miliar sel otak yang aktif dan mereka sudah menjalin sekitar 50 triliun hubungan dengan sel-sel otak yang lain serta bagian-bagian tubuh lain.

Ketika usia dalam bulan-bulan awal

Disaat indra bayi sudah bereaksi terhadap lingkungannya, dia akan mengembangkan hubungan “sinaptik” baru dengan kecepatan yang menakjubkan, yaitu hingga 3 miliar per detik.

Didalam usia 6 bulan pertama

Si kecil akan berbicara dengan menggunakan semua suara yang sama seluruh dunia, tetapi kemudian dia akan mulai belajar berbicara dengan hanya menggunakan suara serta kata-kata yang dia ambil dari lingkungannya, khususnya dari orang-orang terdekatnya yaitu orang tuanya. Otaknya akan membuang ketrampilan berbicara didalam bahasa yang tidak dia dengar disekitarnya.

Ketika menginjak usia 8 bulan

Otak si bayi telah meningkat dan akan memiliki sekitar 1.000 triliun hubungan (1.000.000.000.000.000). Setelah sejumlah tersebut, hubungan akan mulai menurun kecuali si anak dihadapkan kepada rangsangan melalui semua indranya.

Menginjak usia sekitar 10 tahun

Sekitar separuh hubungan telah mati pada kebanyakan anak, tetapi masih meninggalkan sekitar 500 triliun yang akan bertahan sepanjang hidupnya.

Usia hingga 12 tahun

Otaknya sudah dilihat sebagai spons super yang paling banyak menyerap sejak kelahiran hingga usia sekitar 12 tahun. Selama tahap ini dan khususnya di tiga tahun pertama; bahasa, dasar-dasar berpikir, tingkah laku, pandangan, karakteristik lain dan bakat diletakkan pondasinya.

Sumber : f-buzz.com

04 April 2010

Autisme

Mengenali Autisme
 
Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.

 

Statistik Blog

Daftar Teman

Check This Out

adf.ly - shorten links and earn money!
dk-educlub.blogspot.com Copyright © 2010-2011 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template